Advertisements

Di Indonesia telah berkembang pertanian karet lebih dari seratus tahun, dan mejadi negara produsen terbesar, namun produksi yang besar itu tidak menjadikan Indonesia yang menguasai teknologi dan bisnis karet dunia. Apa kurangnya kita ? Kok jadi demikian.
Karet alam hampir 80 persen di gunakan untuk ban kendaraan, tetapi tidak ada merek ban Indonesia yang menglobal, karet alam digunakan untuk komponen otomotif, juga sebagian besar kita impor, karet alam di gunakan untuk kondom, tetapi belum bisa juga biscara global, termasuk sarung tangan, sepatu, bahan baku sepatu dan lain sebagainya, kita banyak industri mobil dan sepeda motor, belum ada yang kelas global. Apa kurangnya kita, apa kelebihan negara lain ? Kok jadi begini.
Kita berjuta petani karet, puluhah ribu pedagangan karet, berpuluh industri crumb rubber / eksportir karet, ratusan industri karet hilir, banyak bank, ratusan pakar karet/polimer, puluhan lembaga penelitian karet, polimer, kimia, mesin yang terkait karet. Puluhan fakultas yang terkait dengan perkaret, seperti fakultas pertania, fakultas teknologi hasil pertanian, fakultas teknik industri, fakultas teknik kimia. Apa kuranyanya kita, apa kelebihan orang?
Kita punya lembaga pemerintah yang terlibat dengan perkaretan, seperti Departemen Perdagangan, Departemen Pertanian, Departemen Perindustrian, Menteri negara Riset/ BPPT, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/Bappenas, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, ratusan Pemerintah daerah Provinsi, Kabupaten/Kota bersama perangkat-perangkatnya kita, apa hebatnya kita, apa kurangnya negara lain ?.
Kita banyak assosiasi, ada kelompok tani, ada Gabungan Pengusaha Karet Indonesia, Asosiasi perkebunan, asosiasi industri otomotif, ada KamarDagang dan Industri Indonesia, ada berbagai asososiasi profesi yang terkait dengan karet, apa lebinya orang, apa kurangnya kita?
Kita banyak informasi, berupa buku, bulletin, disertasi, thesis, laporan penelitian, dokumen program dan perencanaan, berapa yang bisa diaplikasi dengan baik dan benar.
Kita punya Grand strategi, punya berbagai perencaaan di berbagai lembaga baik untuk tataran nasional, daerah, lembaga, asosiasi dan lain sebagainya, apa lagi kurangnya kita, kok jadi begini, kita dikutakatik orang lain, kita jadi ayam mati dilumbung, kita miskin dalam kekayaan yang melimpah, kita lemah padahan kita punya kekuatan yang besar.
Sebanarnya kita tidak banyak kelemahan, tetapi ada, hanya sedikit yakni lupa dengan ajaran nenek moyang, yakni “filsafah sapu lidi” kita tidak pernah bersama, tidak pernah menayapu dunia perkaretan dengan sapu filsafat sapu lidi, hanya itu saja, sedikit saja.
Tinggal siapa yang jadi lidi, siapa pengikat lidi, siapa tangkai sapu, siapa yang menyapu. Tentu yang menyapu, sudah tentu yang menyapu adalah kita juga, siapa yang berperan otak, siapa yang berperan mata, siapa yang berperan kaki, siapa yang berperan kaki, dan yang utama adalah siap yang berperan “HATI atau QALBU” yang mengkobarkan semangat, menjaga kesabaran (istiqamah), konsistensi, kordinasi, integrasi semua komponen yang ada pada penyapu, yang membuat sapu bergerak menanyapu perkaretan global. Visinya kita jadi raja karet dunia, kita sejahtera dari karet, kita kaya dari karet.
Saya ingin mengambil peran dari satu filsfat sapu lidi sebisa saya, sekurangnya menjaga hati dari penyapu, “lebih hati kurang hati, karena hati kita bisa mati-matian untuk mencapai visi, saya ingin menjadi sedikit hati dalam perkaretan nasional, melalui blog ini.
Web-blog ini saya maksudkan untuk menyampaikan pikiran-pikiran saya, menghimpun informasi tenatang perkaretan yang bisa saya dapat dari media cetak, online dan lain sebagainya, dan menyebar luaskannya. Menrima tulisan dari pembaca atau pemerhati karet yang disampaikan memalui e-mail saya untuk disebarluaskan, tentu saja mengenai perkaretan dan tanggung jawab dari penulis.
Pada kesempatan saya mohon izin kepada media, yang saya ambil untuk disiarkan, tentu saja saya sebutkan sumbernya.
Semoga dengan kita mengambil bagian dari sapu lidi perkaretan Indonesia dan partisipasi anda sangat saya harapkan.
Dasril Daniel, Jambi, 07 Februari 2009
dasrildaniel@yahoo.co.id

Advertisements

Advertisements