Advertisements

Kondisi kendaraan yang dibawa ke lahan sawit gambut tebal

Advertisements

Kondisi kendaraan yang dibawa ke lahan sawit gambut tebal

Catatan Harian 17 November 2013

Bagi sebagian orang, jangan  kata tentang  melakukan pekerjaan-pekerjaan ladang sawit di daerah gambut tebal seperti : menumbang kayu, menanam bibit, mengimas, menyemprot, membuat pasar pikul dll, bahkan untuk bisa sampai ke lahan/ladang miliknya saja kadang sudah ada yang gempor. Apalagi saat musim hujan atau saat panas terik. Pekerjaan ladang bisa menjadi sangat melelahkan, karena meskipun musim hujan, tapi matahari sering terik menyengat, belum lagi kaki selalu masuk ke dalam gambut hingga batas pangkal paha. Kau boleh saja bertanya, bagaimana mungkin seseorang bisa gempor hanya karena melakukan perjalanan menuju ke ladangnya sendiri?

Ini ada kisahnya. Ada seorang investor sawit dari Jakarta yang sama sekali belum pernah melihat lahan yang dibelinya lebih dari tiga tahun lalu. Ladang yang cukup luas itu dibelinya dengan harga cukup murah, karena memang letaknya cukup jauh dari jalan yang bisa dilalui oleh kendaraan beroda empat. Memanglah kalau di Riau, jika kalian mencari lahan yang cukup luas untuk perkebunan, sudah sangat sulit jika mencarinya dengan memasukkan ketentuan harus dekat dengan jalan yang bisa dilalui oleh kendaraan beroda empat. Kalau ada biasanya harganya sudah mahal. Sebagai ancang-ancang, yang hutan belantara saja sekarang sudah banyak yang menawarkan Rp. 15 juta rupiah. Yang lebih murah dari itu biasanya bermasalah atau buntut-buntutnya harganya malah jauh di atas itu.

Kembali ke cerita. Sejak pembelian lahan, penanaman sawit, perawatan hingga sudah mulai berbuah dompet ia percayakan kepada kenalannya sebagai pengelola, sedang temanku hanyalah pekerja hariannya saja.

Suatu ketika, karena penasaran ingin melihat lahannya yang dikelola kerabatnya itu, ia jauh-jauh datang dari Jakarta dan minta ikut hingga ke lahan. Oleh kerabatnya sudah disampaikan secara halus bahwa musim hujan ini akan semakin sulit masuk ke lokasi, mungkin lain hari. Tapi karena dia bilang mampu dan pasti bisa dia pun ikut. Lagipula kerabatnya itu nggak berani banyak-banyak melarang, khawatir dikira nggak mau memperlihatkan hasil kerja yang dibiayainya selama ini karena ada sesuatu. “It’s ok”, katanya dalam hati lalu berangkat.

Setelah melalui jalan tanah sekitar 5 km jauhnya dari ujung jalan aspal,  mobil sudah tidak bisa lagi masuk, apalagi mobil keren begini, jika dipaksakan, bisa-bisa saat pulang pulang sudah penuh dengan grafiti, atau tulisan kaligrafi hasil karya ranting-ranting pohon.

Jadi mobil tidak bisa masuk karena gambut yang cukup tebal, ranting-ranting pohon dan kayu-kayu tunggul yang masih bernongolan karena  jalan ini memang masih berupa jalan hasil timbunan backhoe.Sarana terbaik yang bisa masuk akal adalah naik pompong (sejenis perahu kecil) atau kendaraan roda dua. Itupun terseok-seok karena kadang ban sering tenggelam hampir setengahnya di gambut basah. Perjalanan sejauh 12 KM yang sulit itu terpaksa kami ditempuh berboncengan naik kendaraan motor roda dua. Seringkali kami harus turun dan menuntun kendaraan sewaktu masuk lumpur gambut atau melewati jembatan yang hanya terdiri dari dua balok melintang.

Sampai di lahan, ia salaman dan berbincang sebentar dengan petani-petani disitu, kemudian masuk gubuk langsung tergeletak, lalu tertidur di atas papan dengan mimpi yang hanya dia yang tau, kalau boleh kutebak maka untuk sekelas dia, barangkali sedang bermimpi menginap di hotel-hotel seperti : St. Regis Hotel, Westin Hotel, The Langham, Raffles Hotel, Rosewood, atau mungkin mimpi tentang arti GEMPOR. Heh… jangan kalian kira aku paham hotel-hotel mewah gitu, aku cuma googling di Internet.

Dia terbangun menjelang sore, dari jendela gubuk dia melihat sekilas areal perkebunan sawitnya yang luas itu, lantas dia bilang “Udah kupercayakan sajalah pada kalian, sekarang tolong antar aku pulang” sambil mengibas celana panjangnya dari bunga-bunga mirip duri dari rumput liar yang melekat.

Jadi kupikir begini : memang seorang investor dan tangan kanannya yang ada di lapangan haruslah saling menjaga antara satu sama lain, menjaga betul tentang kisi-kisi antara hak dan kewajiban yang pantas. Jika semua ini dilakukan dengan baik, tentu hasilnya kelak akan baik pula dan berkesinambungan untuk jangka panjang. Sekaligus memberikan peluang kerja dan pendapatan bagi orang-orang di lingkungan sekitar yang rata-rata adalah rakyat miskin.

Dengan begitu investor-investor lain mungkin bisa lebih tertarik dan mempercayakan modalnya untuk dikelola secara baik di daerah-daerah terpencil seperti ini. Karena seperti kulihat sendiri yang sungguh sangat patut disayangkan, bahwa banyak lahan-lahan terbengkalai, ratusan hektar dibiarkan rusak tidak terurus bahkan tidak ditanami lagi karena kepercayaan yang sudah rusak oleh kepentingan-kepentingan pribadi, kemalasan dan ketamakan di kedua belah pihak.  Akupun sudah memahami, untuk jangka panjang : kebun sawit bisa sangat menjanjikan, tapi bisa juga menjadi malapetaka bagi siapa saja yang tamak dan tidak sabar.

Dari catatan Harianku “Di Bawah Daun-daun Hijau by Ivan Mangunsong”

Catatan-catatan harian lainnya :

Advertisements