Advertisements

16 Februari 2012

Advertisements

Salah satu kelemahan bangsa kita saat ini adalah, kita memiliki banyak sumber daya alam, tetapi kurang dapat memanfaatkannya dengan maksimal. Padahal, jika mampu membaca dan memanfaatkan peluang, niscaya negara ini sudah jauh lebih maju dari sekarang ini. Salah satu contoh, Indonesia sejak tahun 2006 merupakan negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Luas kebun sawit Indonesia mencapai 7,9 Juta Ha pada Tahun 2009, dengan produksi minyak kelapa sawit mentah Crude Palm Oil (CPO) sebesar 20,2 Juta ton. Sebanyak 18 Juta ton di antaranya diekspor ke negara lain. Namun, Indonesia hanya mampu mengekspor minyak kelapa sawit mentah ke berbagai negara di dunia tanpa pengolahan lebih lanjut sehingga harganya relatif murah. Akibatnya negara lain memperoleh untung besar karena mereka membeli CPO dengan harga rendah, kemudian mengolahnya menjadi produk turunannya yang bernilai jual tinggi.

Ironi memang, kita yang punya segalanya, tetapi tidak kuasa mengelolanya untuk kepentingan kita secara maksimal. Kita pengekspor CPO terbesar di dunia, tetapi harga CPO Indonesia didikte oleh Rotterdam pasar spot dan Kuala Lumpur untuk harga kontrak berjangka. Selama puluhan tahun, kita terlena dan bangga dengan sebutan sebagai negara produsen CPO terbesar di dunia, tapi kita tidak pernah menggarap pasar dan mengolah CPO menjadi aneka produk turunannya. Sebagai produsen utama CPO seharusnya kita yang meraih nilai tambah besar dengan mengembangkan berbagai industri pengolahan CPO di dalam negeri. Sekarang peluang itu diambil oleh negara lain dengan memperoleh keuntungan yang besar.

Ketika krisis ekonomi global melanda dunia pertengahan tahun 2009, harga CPO jatuh ke titik nadir sehingga menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi petani dan pengusaha kita. Pada saat itu kita menyaksikan, petani sawit menjerit, mereka membiarkan buah sawitnya busuk di batang, daripada memanennya dan menjualnya dengan harga hanya Rp. 300/kg, karena biaya transportasinya saja dari kebun ke jalan besar jauh lebih besar dari itu Pengalaman pahit ini hendaknya jadi pelajaran kita semua. Untuk itu perlu dilakukan berbagai terobosan, antara lain melakukan diversifikasi minyak kelapa sawit menjadi produk turunannya yang lebih bernilai jual tinggi, misalnya biodiesel, oleokimia, sabun, lili, shampo, dan plastik. Dengan demikian kita tidak hanya menjual maupun mengekspor minyak kelapa sawit dalam bentuk CPO saja, tapi juga dalam berbagai bentuk produk turunannya sehingga akan meningkatkan daya saing produk yang pada gilirannya menaikkan pendapatan petani dan devisa negara.

Sepuluh tahun terakhir penulis fokus meneliti tentang diversifikasi minyak kelapa sawit sebagai bahan mentah untuk produksi senyawa bioplastik. Keunggulan bioplastik dibandingkan dengan polimer sintetis berasaskan petrokimia ialah karena sifatnya yang dapat diuraikan oleh mikroorganisma secara alamiah di dalam tanah dan air sehingga tidak merusak lingkungan seperti yang banyak ditimbulkan oleh plastik sintetis. Keuntungan lainnya adalah, bioplastik dapat dihasilkan dari bahan dasar nabati seperti lemak, minyak, karbohidrat dan lainnya yang ketersediaannya di alam tidak terbatas dan dapat diperbarui sepanjang masa (renewable).

Dewasa ini, telah ditemukan mikroorganisme tertentu dapat merubah minyak kelapa sawit menjadi plastik yang secara kimia dikenal dengan nama poli(3-hidroksialkanoat) atau P(3HA). Bagi bakteri tersebut plastik (polimer) ini berguna sebagai cadangan bahan makanan. Bakteri tertentu dapat mengakumulasi P(3HA) di dalam selnya mencapai 30-80 % dari berat selnya, seperti Ralstonia eutropha, Erwinia sp USMI-20. Ketika ‘bahan simpanan’ bakteri ini sudah mencapai jumlah banyak, peneliti di laboratorium tinggal mengekstraknya keluar sel, sehingga diperoleh resin polimer yang dapat dikembangkan untuk berbagai keperluan, misalnya untuk plastik pembungkus yang ramah lingkungan. Dari kelompok P(3HA), poli(3-hidroksibutirat) atau P(3HB) dan ko-polimernya poli(3-hidroksibutirat-ko-3-hidroksivalerat) atau P(3HB-ko-3HV) merupakan dua biopolimer yang paling banyak dikaji karena kedua biopolimer ini mempunyai sifat fisika dan kimia yang hampir sama dengan plastik sintetik.

Sampai saat ini, teknologi produksi senyawa biopolimer dengan kaedah bioteknologi modern, yaitu fermentasi menggunakan bahan mentah minyak nabati belum banyak terjamah oleh para peneliti di negara kita. Padahal, kita memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah terutama minyak kelapa sawit dan jutaan bakteri penghasil biopolimer yang dapat digali dari tanah Indonesia. Di Malaysia dan Jepang penelitian ke arah ini telah dimulai sejak awal tahun 1990. Korea telah dapat memasarkan produk biopolimernya dengan harga yang dapat bersaing dengan plastik sintetis untuk tujuan plastik pembungkus, wadah dan kemasan ramah lingkungan.

Secara teoritis, dari 1,0 kg minyak kelapa sawit mentah akan dapat dikonversi menjadi 1,4 kg P(3HB). Di pasaran dunia, bahan baku P(3HB) dengan merek Biopol sebagai plastik pembungkus, dijual dengan harga Rp. 160.000/kg, dibandingkan dengan CPO yang hanya berkisar Rp. 5.000/kg. Jadi dengan mengubahnya menjadi P(3HB), secara teoritis dari 1 kg CPO dengan harga Rp.5.000.- bisa dihasilkan 1,4 kg P(3HB) dengan harga jual Rp.224.000.- berarti terjadi kenaikan nilai mencapai mencapai 44 kali. Katakanlah biaya produk dan investasi peralatan mesin (untuk konversinya) mencapai 50% dari harga jualnya, kita masih tetap untung memperoleh kenaikan nilai CPO lebih kurang 22 kali (2.200%) dari harga penjualan sekarang. Kalaulah Pemerintah Indonesia mau serius menggarap peluang ini, akan terjadi kenaikan devisa yang luar biasa, di samping akan membuka peluang lapangan kerja yang sangat besar di negeri ini. Pada saat ini, teknik produksi bioplastik P(3HB) skala pilot (semi industri, kapasitas bioreaktor 100L) dari minyak kelapa sawit telah kita kuasai.
Dari serangkaian penelitian, penulis telah berhasil mengisolasi puluhan bakteri penghasil P(3HB) dari sampel tanah, air, lumpur sungai, dan air laut yang ada di Sumatera Barat, Jambi, Riau dan Sumatera Selatan. Sebagiannya dari bakteri ini telah berhasil diidentifikasi genus dan spesiesnya dengan lengkap dan saat ini dalam proses optimasi produksi P(3HB). Saat ini bakteri-bakteri ini, dikoleksi dan diawetkan di Bagian Bioteknologi, Laboratorium Biota Sumatera, Universitas Andalas, dengan kode koleksi FAAC (Farmasi Andalas Akmal Collection) yang dalam waktu dekat, akan segera daftarkan patennya. Bakteri-bakteri ini adalah bagian dari kekayaan alam kita yang selama ini belum kita manfaatkan sama sekali. Untuk melanjutkan penelitian ini ke peringkat produksi dengan volume lebih besar perlu bekerjasama dengan pihak industri, pada tahapan ini peran Pemerintah sangat diperlukan. Tanpa adanya campur tangan pemerintah untuk menjembatani hasil-hasil penelitian para peneliti di Perguruan Tinggi dengan pihak industri, percayalah, negeri ini akan tetap ’begini-begini’ saja. Hasil karya para peneliti kita, hanya akan menjadi tumpukan laporan penelitian ataupun artikel ilmiah yang tak seberapa nilainya.

Dari uraian di atas, ada peluang baru untuk memproduksi produk turunan dari minyak kelapa sawit yaitu menjadi bioplastik P(3HB). Paling kurang untuk tahap awal dapat menyuplai kebutuhan bahan baku P(3HB) untuk industri kemasan/pembungkus, untuk bidang farmasi, bidang pertanian, bidang kedokteran dan alat alat rumah tangga lainnya. Di samping itu di dalam negeri pemerintah perlu membuat kebijakan untuk mengurangi pemakaian bahan plastik pembungkus sintetik dan secara bertahap diganti dengan produk yang lebih ramah lingkungan. Kebijakan ini telah berlaku di negara-negara maju. Dengan demikian, deversifikasi minyak kelapa sawit menjadi produk turunannya yang lebih bernilai jual tinggi, yaitu menjadi bioplastik P(3HB) secara bertahap dapat diwujudkan dan pasarnya juga tersedia. Tidak tidak lagi menjual murah CPO kita ke negara lain, seperti yang terjadi saat ini (*).

Sumber : http://profakmaldjamaan.wordpress.com

Berita/Artikel Menarik Lain Yg Wajib Diklik :

Advertisements