Advertisements

Paket Teknologi untuk mempersingkat TBM dan meningkatkan produksi kelapa sawit dengan applikasi pupuk JUHAR & Urea yang inovatif telah dicoba secara semi komersil selama 4-6 tahun di beberapa perusahaan swasta dan pribadi di Sumut. Respon pupuk terhadap vegetatif/pertumbuhan dan pembentukan buah cukup instan dibandingkan pupuk konvensional serta kesehatan tanaman lebih baik (berfungsi sebagai pencegahan preventif), dan pengendalian terhadap penyakit seperti marasmius palmivorus, ganoderma yang mengering, dan lapuk.

Kualitas bibit (tinggi bibit, diameter batang, jumlah pelepah dan lilit batang) sesuai bahkan lebih baik dari standard. Persentase kegagalan bibit dari pre nursery ke main nursery hanya sekitar 1%.

Pupuk JUHAR & Urea mempersingkat TBM 3-4 bulan lebih cepat dibandingkan pupuk konvensional. Pada umur 24 bulan tanaman menghasilkan sekitar 8 tandan dengan 3 tingkatan. Pada umur 26-28 bulan sudah dapat dipanen. Berdasarkan data tersebut dapat diprediksi secara teoritis bahwa bila menggunakan JUHAR & Urea dengan kerapatan pohon 143 per ha menghasilkan TM-1 sekitar 20,6 ton per ha per tahun dibandingkan pupuk konvensional 13,7 ton per ha per tahun. Dalam hubungan ini, realisasi produksi TM 1 dari hasil prediksi teoritis tersebut tergantung antara lain: sumber kecambah, jenis tanah, kesempurnaan pemupukan (tepat waktu, dosis, sistem poket), kerapatan pohon per ha, dan iklim.

Pemberian pupuk JUHAR & Urea terhadap tanaman tua (20 tahun) untuk meningkatkan jumlah tandan per hektar. Pengamatan selama 1 tahun menunjukkan jumlah tandan (JUHAR & Urea) 841 lebih tinggi dibandingkan pupuk konvensional hanya 741.

Pemakaian dosis dan biaya pemupukan JUHAR & Urea juga lebih hemat dibandingkan konvensional 1:4 untuk TBM dan 1:2 untuk TM. Untuk TBM sbb: (1,5 Kg per pokok per tahun) setara dengan (Rp 9.200 per pokok per tahun) sedangkan pupuk konvensional (8 Kg per pokok per tahun) setara dengan (Rp 36.000 per pokok per tahun). Untuk TM sbb: (3,0 Kg per pokok per tahun) setara (Rp 18.200 per pokok per tahun) sedangkan konvensional (10 Kg per pokok per tahun) setara (Rp 42.500 per pokok per tahun).

I. PENDAHULUAN

Sebagaimana dimaklumi bahwa masa TBM sawit mencapai 30-34 bulan dan bahkan lebih dengan produktivitas sekitar 5-8 ton per ha per tahun. Selain itu, sekitar 50-60 % dari total biaya pengelolaan kebun kelapa sawit adalah untuk biaya pemupukan. Manajemen perusahaan menginginkan masa TBM lebih singkat, produktivitas TM yang lebih tinggi dan pupuk yang hemat biaya dengan syarat kualitas tanaman memenuhi standard atau lebih.

Keuntungannya, biaya investasi tanaman akan banyak berkurang dan panen lebih awal sehingga pengembalian modal lebih cepat. Pada saat ini tersedia paket teknologi yang inovatif untuk mempersingkat TBM dan meningkatkan produksi kelapa sawit dengan applikasi pupuk JUHAR & Urea hemat biaya, mampu menghasilkan kualitas tanaman standard atau lebih.

Pupuk JUHAR adalah pupuk super – majemuk yang diformulasi khusus mengandung sedikitnya 9 unsur anorganik (makro dan mikro) dan dalam aplikasinya dicampur dengan Urea/ZA tergantung pada pH tanah. Apabila pH tanah basa campurannya dipakai ZA dan apabila pH tanah asam maka campurannya dipakai urea. Apabila diaplikasi sesuai dengan protocol (dosis dan waktu pemberian) yang tepat, ternyata pupuk tersebut mampu memacu pertumbuhan, meningkatkan kesehatan berfungsi sebagai pencegahan (Preventive) terhadap penyakit seperti Ganoderma, dan kualitas tanaman baik. Akibatnya, masa TBM (Tanaman Belum Menghasilkan) lebih singkat, dan produktivitas lebih tinggi.

Untuk Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), aplikasi dosis dan biaya pupuk JUHAR & Urea lebih hemat (1,50 Kg per pokok setara Rp 9.000 per pokok per tahun) dibandingkan dosis pupuk konvensional (8,00 Kg per pokok per tahun setara Rp 36.000 per pokok per tahun). Dalam hal ini, perbandingan biaya JUHAR & Urea dan konvensional untuk TBM 1:4.

Untuk Tanaman Menghasilkan (TM), aplikasi dosis pupuk JUHAR & Urea juga lebih hemat (3,00 Kg per pokok setara Rp 18.000 per pokok) dibandingkan dosis pupuk konvensional (10 Kg per pokok setara Rp 42.500 per pokok) atau 1:2 dengan kualitas tanaman yang sama atau lebih. Dalam hal ini, perbandingan biaya JUHAR & Urea dan konvensional untuk TM 1:2.

II. MANFAAT PUPUK JUHAR & UREA
1. Meningkatkan kesuburan tanah

Pupuk JUHAR yang diformulasi khusus sehingga dapat meningkatkan kondisi dan kesuburan tanah ditunjukkan oleh pH dan CEC (Capacity Exchangeable Cation). Hasil analisa kadar unsur-unsur pupuk JUHAR yang diterbitkan Laboratorium Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Sumatera Utara, Medan No. 14818/VII/08 serta dibawah Tim Pengkajian Pupuk dari Fakultas Pertanian, USU, No. 2342/Jo.5.9/TU/2008 mengandung unsur makro, mikro, katalisator dan aktivator. Dalam aplikasinya bila pH tanah asam, pupuk Juhar dicampur dengan pupuk Urea (1:0,5) atau bila pH tanah basa maka pupuk Juhar dicampur dengan pupuk ZA (1:1).

Hasil analisa yang dilaksanakan Research and Development, Asian Agri, tanggal 6 Agustus 2007 atas tanah yang dipupuk JUHAR & Urea dibandingkan pupuk konvensional disajikan dalam Tabel 1 sebagai berikut:

Hasil analisa pada Tabel 1 tersebut menunjukkan bahwa pH (tingkat keasaman) lebih baik, CEC (Capacity Exchangeable Cation) dan N total lebih tinggi sedikit sedangkan P tersedia dari pupuk JUHAR & Urea lebih tinggi 2,8 kali dibandingkan pupuk konvensional. Hal ini menunjukkan bahwa keasaman dan ketersediaan nutrisi (unsur-unsur hara) pupuk JUHAR & Urea lebih baik dibandingkan pupuk konvensional sehingga menambah kesuburan tanah, perakaran dan meningkatkan kemampuan kapileritas tanaman sehingga respon pupuk terhadap tanaman tinggi (instan).

Dalam hal ini, absorpsi/adsorpsi tanaman atas unsur-unsur hara (nutrisi) tersedia cukup dan lengkap serta mampu meningkatkan trans lokasi unsur hara / nutrisi dari tanah ke batang, daun, pelepah dan buah. Selain itu, ada zat-zat yang terdapat dalam pupuk Juhar bertindak untuk pencegahan dan pengendalian penyakit Ganoderma dan Marasmius Palmivorus sehingga kualitas tanaman prima. Hasilnya dapat mempersingkat masa TBM, memperbaiki vegetatif tanaman (jagur, hijau cerah, daun tidak kaku/crack dan tidak melidi), lebih tahan terhadap penyakit sekaligus pengendalian Ganoderma dan peningkatan produksi (regeneratif) tandan buah segar (TBS).

2. Mempersingkat masa di bibitan dan masa TBM.

Berdasarkan hasil applikasi pupuk JUHAR & Urea dalam skala komersil (9.280-74.300 bibit) pada perusahaan swasta di Sumatera (2007- 2011), masa TBM mengggunakan pupuk JUHAR & Urea dapat dipersingkat waktunya dari 30-34 bulan menjadi 26-28 bulan dibandingkan pupuk konvensional (Tabel 2):
Secara garis besarnya, pupuk JUHAR dapat mempersingkat masa TBM sekitar 3-4 bulan dibandingkan pupuk konvensional.

3. Aplikasi pupuk JUHAR & Urea pada Pre dan Main Nursery

a. Pre Nursery ( Umur bibit 0-3 bulan)

Pada bulan ke-0, pupuk dasar (JUHAR) dengan dosis: 10-20 gram per pokok per polibag terlebih dahulu dicampur dengan tanah dan diaduk merata kemudian dimasukkan ke dalam polibag. Bibit disiram 2 kali per hari sampai bulan ke-3. Hasilnya bibit hijau dan seragam. Hama seperti belalang terkontrol berfungsi sebagai pencegahan (preventif) di mana penyakit seperti ganoderma tidak ditemukan. Setelah 3 bulan, bibit dipindahkan ke main nursery. Rincian pemberian pupuk umur 0 bulan – TM (Lampiran 1).

Selain itu untuk meningkatkan kualitas tanaman disemprotkan PPC (Pupuk Perangsang Cair ) merk Flovit dosis 100-150 ml per Cap. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa persentase gagal bibit dari Pre Nursery ( 74.300 bibit) ke Main Nursery kecil hanya sekitar 1%.
b. Main Nursery (Bulan Ke – 4 dan seterusnya) dan teknik mempersingkat TBM

Setelah bibit berumur 3 bulan di pre nursery, pada awal bulan ke – 4 dilaksanakan persiapan pemindahan ke main nursery. Tanah dalam polibag dilubangi dulu dengan alat bertanah (Bila ada). Kemudian pupuk JUHAR dosis 20-50 gram sebagai pupuk dasar dimasukkan ke dalam lobang tersebut. Dengan dosis 20 gram, pembentukan sludang pada masa TBM sekitar 11 bulan. Untuk mempersingkat masa TBM, dosis JUHAR sebagai pupuk dasar ditingkatkan dari 20 menjadi 50 gram, maka pembentukan sludang sekitar 5-6 bulan pada masa TBM.

Selanjutnya bibit di pre nursery dikeluarkan dari Babybag dan dimasukkan ke polibag di main nursery yang telah berisi pupuk dasar JUHAR 20-50 gram tersebut. Untuk merangsang pertumbuhan daun dapat disemprotkan PPC merk Flovit dosis 100-150 ml per cap. Kemudian bibit di siram 2 kali per hari dengan volume air 2 liter per polibag per hari. Penyiraman dilanjutkan sampai tanaman dipindahkan ke lapangan. Pada bulan ke-5, aplikasi pupuk JUHAR dosis 10-15 gram per polibag dicampur dengan Urea 5-7,5 gram per polibag kemudian diaduk. Campuran pupuk JUHAR & Urea ditaburkan ke samping /sekitar pohon di polibag.

Pada bulan ke-6 sampai dengan bulan ke-12 dilaksanakan applikasi pupuk JUHAR & Urea (15 gram per pokok dan Urea 7,5 gram per pokok). Hasil applikasi pupuk JUHAR & Urea terhadap kualitas bibit (rata-rata: tinggi bibit, diameter batang, jumlah pelepah, dan lilit batang) dari 74.300 bibit di Main Nursery disajikan dalam Tabel 3 berikut:
Dari data tersebut ternyata kualitas tanaman telah memenuhi standard kebun bahkan lebih. Warna daun hijau cerah, mengkilat dan bungkil lebih besar. Hama Belalang sedikit sekali dan bisa dikendalikan. Pada bulan ke-8-9, bila diperlukan bibit dapat dipindahkan ke lapangan. Pada umumnya pemindahan dilakukan pada umur 11-12 bulan (TBM 1). Dengan menggunakan pupuk JUHAR, biasanya pemindahan bibit ke lapangan tidak terjadi stress.

c. Aplikasi Pupuk JUHAR & Urea di lapangan pada TBM dan TM

TBM 1

Pada semester I dari TBM 1, apabila kondisi tanah asam (pH < 7) dilakukan persiapan campuran pupuk JUHAR 500 gram dan Urea 250 gram diaduk hingga homogen. Apabila kondisi tanah basa (pH > 7) maka pupuk Juhar (500 gram) dicampur bukan dengan pupuk Urea tapi dengan pupuk ZA (500 gram). Pupuk tersebut di poket dan dimasukkan kedalam lobang (6 titik) dengan jarak masing-masing 0,5 m dari pokok kemudian ditutup dengan tanah. Dengan perlakuan ini maka pembentukan akar dan kapilaritas untuk translokasi nutrisi semakin baik. Selain itu pupuk tidak menguap dan tidak tercuci bila turun hujan dan bila tergenang. Dengan kata lain makanan / nutrisi tersedia secara terus menerus selama 6 bulan.

Apabila dosis pupuk dasar JUHAR pada Main Nursery 50 gram/pokok maka pembentukan sludang terjadi sekitar bulan ke-6 (Gambar 4), sedangkan pupuk konvensional (tunggal / NPK) pembentukan sludang terjadi pada bulan ke-14.

Pada semester II dari TBM 1, pupuk JUHAR 500 gram dicampur dan diaduk 250 gram Urea (bila pH <7) atau 500 gram ZA (bila pH tanah >7) hingga merata. Pupuk dimasukkan dan didistribusikan ke dalam 6 lobang (sistem poket) jarak 50 cm dari pohon kemudian pupuknya ditutup dengan tanah.

TBM 2

Pada semester I TBM 2, pupuk JUHAR 500 gram dicampur dan diaduk 250 gram Urea bila tanah asam (pH <7) atau ZA (500 gram) bila pH tanah basa (pH>7) serta dimasukkan dan didistribusikan ke dalam 6 lobang tanaman jarak 50 cm dari pohon. Pada semester II TBM 2, pupuk JUHAR 500 gram dicampur dan diaduk 250 gram Urea bila pH tanah asam (pH <7) atau ZA (500 gram) bila pH tanah basa (pH >7). Kemudian dimasukkan dan distribusikan ke dalam 6 lobang jarak 50 cm dari pohon serta pupuknya ditutup dengan tanah.

Apabila dosis pupuk dasar JUHAR pada Main Nursery 20 gram/pokok maka pembentukan sludang terjadi sekitar bulan ke-11, sedangkan pupuk konvensional pembentukan sludang biasanya terjadi pada bulan ke-14.

Pengamatan menunjukkan bahwa pada umur tanaman sama atau diatas 24 bulan (Gambar 5), pohon sudah berbuah dengan 3 tingkat dan masing-masing tingkat mempunyai rata-rata 8 tandan.

Oleh: Dr. Rusdan Dalimunthe M. Sc dan Ir. Mauritz Simanjuntak (Bagian Pertama – Bersambung )

Advertisements

Artikel Terkait Lainnya

JAKARTA – Manajer Program Hukum dan Masyarakat Epistema Institute, Yance Arizona mengutarakan, eksistensi masyarakat adat sangat perlu diakui negara. Bahkan, tak cukup hanya pengakuan. Putusan Mahkamah Konstitusi No. 35/PUU-X/2012 dilapanagn faktanya masih banyak terjadi pengabaian terhadap hak-hak masyarakat adat. Yance menyatakan, kalau sebelumnya hutan adat adalah hutan negara, setelah putusan MK 35/2012, hutan adat adalah […]

Advertisements Medan – Jaksa Agung Muhammad Prasetyo mengatakan proses eksekusi lahan sawit milik pengusaha DL Sitorus seluas 47 ribu ha di Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara, sudah selesai. Kejaksaan Agung sudah menyerahkan lahan tersebut kepada Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup. “Perkara DL Sitorus menyangkut barang bukti seluas 47 ribu ha sudah diserahkan secara […]

KOTA KINABALU – Menteri Sains, Teknologi dan Inovasi, Datuk Ewon Ebin mengatakan, salah satu dari tiga proyek yang memanfaatkan minyak sawit atau biorefinery di Sabah dan Sarawak, telah disetujui oleh komite Bioeconomy Transformation Programme (BTP). Genting Plantations Berhad bakal berkolaborasi dengan Elevance Renewable Sciences, sebuah perusahaan kimia asal Amerika Serikat, untuk membangun biorefinery. Seperti tulis […]

Advertisements Amerika Serikat – Merujuk laporan Lembaga Swadaya Masyarakat Lingkungan dunia, Forest Heroes, menuding perusahaan sawit PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) bertaggung jawab terhadap kerusakan hutan tropis. Sebelumnya PT Astra Agro Lestari Tbk telah berjanji tidak bakal membangun perkebunan kelapa sawit di hutan tropis, tetapi Forest Heroes menganggap janji PT Astra Agro […]

HERSHEY – Perusahaan Hershey, April 2015 melaporkan hasil penggunaan bahan baku dari sumber minyak sawit berkelanjutan, yang didukung lewat kerjasama strategis dengan The Forest Trust (TFT). Tercatat Harshey, telah menggunakan minyak sawit berkelanjutan sebanyak 94% dari semua pabrik yang menggunakan minyak sawit secara global. Kabarya Harshey, sedang melakukan pemetaan rantai pasok hingga ke perkebunan, yang […]