ilustrasi, ISTMedanBisnis РMedan. Harga karet alam di pasar internasional sulit untuk bangkit dalam waktu dekat karena terhadang rendahnya Harga minyak mentah yang telah berlangsung sejak kuartal III tahun lalu.

Sekretaris Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy Irwansyah mengungkapkan, dalam beberapa tahun terakhir harga karet di pasar internasional terus tertekan. Awalnya, harga karet dunia rendah lantaran permintaan dari Amerika, Jepang, Tiongkok dan Eropa mengalami kelesuan. “Akhir-akhir ini tekanan justru datang dari rendahnya harga minyak dunia,” katanya kepada MedanBisnis, Rabu (11/2).

Menurut dia, rendahnya harga minyak mentah mengakibatkan harga karet juga tertekan. Karet merupakan satu komoditas yang memiliki keterkaitan terhadap minyak mentah, sebab minyak mentah merupakan komoditas yang bisa digunakan untuk memproduksi karet sintetis.

Saat ini, harga minyak dunia masih bertahan di level rendah. Bahkan sudah cukup lama harga “emas hitam” itu tidak beranjak dari level di bawah US$50 per barel. Semula banyak yang mengira penurunan harga minyak dunia bersifat sementara, dan segera mudah diatasi para produsen minyak besar, terutama Arab Saudi.

Namun, ketika harga minyak sudah meluncur ke level US$60-an per barel, baik untuk jenis Brent maupun West Texas Intermediate, banyak yang baru menyadari bahwa ada hal yang bersifat fundamental dan struktural. “Salah satu penyebab anjloknya harga minyak adalah tingginya pasokan shale oil di Amerika Serikat,” ungkapnya.

Penemuan energi baru non-konvensional, shale oil itu, terutama di Amerika Serikat, akhir-akhir ini telah berdampak signifikan terhadap peta energi dunia.

Dengan ditemukannya cadangan shale oil yang melimpah, Amerika serikat memiliki cadangan minyak untuk memenuhi kebutuhannya selama ratusan tahun ke depan.”Itulah sebabnya harga minyak mentah konvensional sekarang bertahan di bawah US$50,” jelasnya.

Tak pelak, permintaan terhadap minyak mentah mengalami kenaikan signifikan. Saat ini, sejumlah industri lebih memilih membeli minyak mentah untuk diubah menjadi karet sintetis ketimbang membeli karet alam. Negara-negara produsen karet dunia seperti Indonesia, Thailand, Malaysia dan Vietnam terpaksa memangkas produksi agar harga karet bisa beranjak. Namun, usaha tersebut hingga kini belum menunjukkan hasil positif. Malah, sejak awal tahun ini, harga karet hanya mampu bertahan pada kisaran US$1,3 hingga US$1,4 per kg.

“Padahal, saat ini harga dasar produksi di perusahaan perkebunan karet sudah melampaui US$ 1,4/kg. Perusaahaan perkebunan saat ini terancam bangkrut karena ongkos produksi sudah tidak tertutupi. Idealnya harga karet saat ini adalah US$2-2,5 per kg,” ungkapnya.

Pengamat ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengungkapkan, melihat kondisi yang demikian, harga karet memang sulit untuk bangkit dalam waktu dekat. “Agak sulit memang untuk mencari solusi meningkatkan harga karet saat ini. Dampak krisis global juga masih terasa di sejumlah negara tujuan ekspor sehingga mereka menahan pembelian,” jelasnya.

Hanya saja, pelaku usaha dan pemerintah perlu meningkatkan koordinasi dalam rangka meningkatkan harga karet. Upaya-upaya yang telah dilakukan sejak tahun lalu juga perlu dievaluasi sehingga bisa lebih efektif dalam mendongkrak harga karet. Sebagai catatan, tahun lalu negara-negara produsen karet dunia, terutama di wilayah Asia Tenggara telah melakukan konsolidasi dan membentuk komite terkait harga karet itu. Namun, hingga saat ini harga karet masih tetap rendah.”Agar harga tak turun lagi, saat ini yang bisa dilakukan hanyalah menjaga keseimbangan antara permintaan dengan pasokan. Harapannya ada faktor fundamental yang tiba-tiba bisa mendongkrak harga karet. Ini juga diharapkan mampu menyelamatkan petani dan pengusaha karet kita,” tandasnya. (daniel pekuwali)

 

Advertisements

Sumber berita: medanbisnisdaily.com

Advertisements