Advertisements

JAKARTA, SAWITINDONESIA – Isu lingkungan yang kerap kali digunakan negara-negara Uni  Eropa mendapatkan kritikan dari Ketua Komisi VI DPR RI Achmad Hafisz Tohir. Hal ini disampaikan legislator asal Sumatera Selatan ketika menerima kunjungan kehormatan Presiden Parlemen Jerman Norbert Lammert pada pekan lalu.

Menurutnya, ekspor CPO Indonesia ke Jerman dipersulit dengan sentimen lingkungan yang menolak produk CPO. Padahal, produk otomotif Jerman diterima dengan baik di Indonesia.

Advertisements

“Kami begitu senang melihat teknologi otomotif Jerman. Begitu banyak Mercedes Benz di Indonesia, tetapi tidak sedikitpun minyak goreng kami bisa masuk ke negara Anda,” ungkap Hafisz kepada Lammert seperti dikutip dari situs dpr.go.id.

Ditambahkan Achmad Hafisz Tohir, Indonesia sangat senang bisa mengadopsi teknologi Jerman. Dan Jerman sendiri sudah mengambil keuntungan dari kerja samanya dengan Indonesia di berbagai sektor. Namun, suasananya terbalik dengan Indonesia, karena neraca perdagangannya mengalami defisit. Sebaliknya, Jerman justru surplus.

Hafisz sendiri sudah meminta Parlemen Jerman untuk membantu ekspor CPO Indonesia bisa masuk Eropa atau setidaknya diterima pasar Jerman. “Jadi, apapun yang akan diekspor ke Jerman, Uni Eropa yang mengatur,” jelas politisi PAN dari Dapil Sumsel I itu.

Argumen penolakan CPO Indonesia, lantaran kelapa sawit penghasil CPO ditanam dengan merusak lingkungan. Selama isu lingkungan ini belum bisa dirubah, selama itu pula ekspor CPO masih sulit masuk. “Situasi ini menjadi pekerjaan rumah kita. Saya sebetulnya sudah tahu persoalan ini. Tapi, saya memancing, kenapa mereka tidak mau membantu kita menyelesaikan masalah ini. Kita, kan, perlu dukungan politik mereka supaya persoalan ini bisa diselesaikan dengan cara birateral,”jelasnya.

Dikatakan Hafisz, penghasil CPO di dunia tidak banyak. Hanya beberapa negara tropis yang bisa memproduksinya. Dan negara tropis itu Malaysia, Indonesia, Thailand, Brazil. Namun, produsen CPO terbesar di dunia adalah Indonesia.

 

Advertisements