Advertisements

“Faktanya pada dua dasawarsa terakhir ini perkembangan perkebunan kelapa sawit sangat pesat yang membawa dampak terjadinya penyusutan lahan, deforestasi, degradasi lahan hutan, menurunnya catchment area dan menurunnya biodiversitas. Kajian pemahaman dampak ini sangat penting dikarenakan akan sangat diperlukan untuk mengatur strategi pengelolaan lahan guna mendapat sistem perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan,” ungkap Ir. Basuki, MS saat melangsungkan ujian akhir Disertasi di Ruang Seminar Utama Lantai 2 Program Pascasarjana Fakultas Pertanian UB pada Rabu (4/6).

Advertisements

Sebagai gambaran di propinsi Kalimantan Tengah hingga tahun 2012 saat penelitian, total luas perkebunan sawit mencapai 1,23 juta hektar dimana 179 ribu hektar perkebunan rakyat dan 1 juta lebih perkebunan besar swasta nasional. Dari sebaran 14 kabupaten yang ada, kabupaten Kotawaringin Timur memiliki total sebaran paling luas dibanding yang lain di Kalimantan Tengah, tambahnya.

Dalam penelitiannya Basuki mengangkat empat pertanyaan inti, pertama sejauh mana pengaruh pembukaan lahan hutan terhadap perubahan sifat kimia dan kesuburan tanah, kedua sejauh mana pengaruh penanaman tanaman penutup tanah pada lahan kelapa sawit terhadap perubahan sifat kimia dan kesuburan tanah, ketiga sejauh mana pengaruh umur tanaman sawit terhadap perubahan sifat kimia dan kesuburan tanah, dan terakhir sejauh mana pengaruh kedalaman lapisan tanah terhadap perubahan sifat kimia dan kesuburan tanah.

Saat memaparkan Disertasi yang berjudul Dinamika Sifat Kimia dan Kesuburan Tanah pada Lahan Perkebunan Kelapa Sawit di Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah, Basuki mendapatkan kesimpulan bahwa pembukaan lahan hutan berpengaruh nyata terhadap penurunan C-organik, N-total, kapasitas tukar kation, kejenuhan basa, serta mempengaruhi indeks kesuburan tanah. Pembukaan lahan hutan juga berdampak pada pH H20 dan tidak berpengaruh nyata terhadap pH KCL dan hidrogen dapat dipertukarkan.

Skema pengaruh pembukaan lahan hutan dapat dijelaskan akan hilang sebagian besar dari vegetasi penutup tanah sehingga akan berdampak terhadap penurunan kandungan bahan organik tanah kemudian terjadi penurunan muatan negatif tanah, penurunan kapasitas tukar kation dan berkurangnya dekomposisi bahan organik yang menyebabkan penurunan supply hara yang bersumber pada mineralisasi bahan organik. Berikutnya, penanaman tanahaman penutup tanah berpengaruh terhadap peningkatan C-organik, meningkatkan indeks kesuburan tanah, simbiom dengan bakteri misobium akan meningkatkan ketersediaan N, kemudian serasah dari tanamaan tersebut akan meningkatkan supply bahan organik juga meningkatkan supply hara serta memperbaiki struktur tanah dan menjadi sumber energi bagi mikroorganisme tanah.

Saat meneliti pengaruh umur kelapa sawit, Basuki mendapatkan hasil yang menarik. Jika diperluas sampai pertumbuhan normal kelapa sawit yaitu 25 tahun maka masih ada peluang kembalinya nilai kesuburan tanah awal pada umur 19 sampai 22 tahun.

Untuk menciptakan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan perlu dilakukan peningkatan pengelolaan lahan dengan terlebih dahulu memahami dampak dari berbagai sub-kegiatan perkebunan tersebut terhadap perubahan sifat kimia dan kesuburan tanah sebagai komponen penting dari lahan yang ada. [waw]

Sumber : http://agriwarta.fp.ub.ac.id/sifat-kimia-dan-kesuburan-tanah-perkebunan-kelapa-sawit-jadi-disertasi/

Advertisements