Advertisements

Media tanam merupakan tempat untuk penyebaran akar yang berfungsi untuk penyangga tanaman agar dapat berdiri tegak dan tempat untuk penyerapan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman, maka media tanam harus mendukung pertumbuhan dan kehidupan tanaman. Oleh karena itu media tanaman harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

Advertisements

Dapat menopang tanaman agar dapat tegak.
Mempunyai drainase dan aerase yang baik.
Kaya bahan organik.
Kemasaman tanah (pH) berkisar antara 5,6-6,8
Mampu menyediakan unsur hara tersedia bagi tanaman
Mampu menjaga kelembaban disekitar akar.
Memiliki tekstur remah

Di indonesia, luas lahan tanah gambut cukup besar dan sangat potensial dikembangkan dalam pengembangan pertanian. Tanah gambut terbentuk dari sisa-sisa tanaman yang telah mati dan terdapat pada tempat yang selalu tergenang air sehingga gambut merupakan tanah yang berkadar bahan organik tinggi hanya saja unsur hara yang dibutuhkan belum terurai sehingga sulit dimanfaatkan tanaman.

Tanah gambut secara umum dalam ilmu tanah disebut tanah organosol atau histosol yaitu tanah yang memiliki lapisan bahan organik dengan berat jenis (BD) dalam keadaan lembab. Gambut diklasifikasikan lagi berdasarkan berbagai sudut pandang yang berbeda; dari tingkat kematangan, kedalaman, kesuburan dan posisi pembentukannya. Berdasarkan tingkat kematangannya, gambut dibedakan menjadi :

Gambut saprik (matang) adalah gambut yang sudah melapuk lanjut dan bahan asalnya tidak dikenali, berwarna coklat tua sampai hitam, dan bila diremas kandungan seratnya < 15%.
Gambut hemik (setengah matang) (Gambar 2, bawah) adalah gambut setengah lapuk, sebagian bahan asalnya masih bisa dikenali, berwarma coklat, dan bila diremas bahan seratnya 15 – 75%.
Gambut fibrik (mentah) (Gambar 2, atas) adalah gambut yang belum melapuk, bahan asalnya masih bisa dikenali, berwarna coklat, dan bila diremas >75% seratnya masih tersisa.

 Berdasarkan tingkat kesuburannya, gambut dibedakan menjadi :

Gambut eutrofik adalah gambut yang subur yang kaya akan bahan mineral dan basa-basa serta unsur hara lainnya. Gambut yang relative subur biasanya adalah gambut yang tipis dan dipengaruhi oleh sedimen sungai atau laut.
Gambut mesotrofik adalah gambut yang agak subur karena memiliki kandungan mineral dan basa-basa sedang.
Gambut oligotrofik adalah gambut yang tidak subur karena miskin mineral dan basa-basa. Bagian kubah gambut dan gambut tebal yang jauh dari pengaruh lumpur sungai biasanya tergolong gambut oligotrofik Gambut di Indonesia sebagian besar tergolong gambut mesotrofik dan oligotrofik
Gambut eutrofik di Indonesia hanya sedikit dan umumnya tersebar di daerah pantai dan di sepanjang jalur aliran sungai.

 Tingkat kesuburan gambut ditentukan oleh kandungan bahan mineral dan basa-basa, bahan substratum/dasar gambut dan ketebalan lapisan gambut. Gambut di Sumatra relatif lebih subur dibandingkan dengan gambut di Kalimantan.

Berdasarkan lingkungan pembentukannya, gambut dibedakan atas:

 Gambut ombrogen yaitu gambut yang terbentuk pada lingkungan yang hanya dipengaruhi oleh air hujan
Gambut topogen yaitu gambut yang terbentuk di lingkungan yang mendapat pengayaan air pasang. Dengan demikian gambut topogen akan lebih kaya mineral dan lebih subur dibandingkan dengan gambut ombrogen.

 Berdasarkan kedalamannya gambut dibedakan menjadi:

 Gambut dangkal (50 – 100 cm),
Gambut sedang (100 – 200 cm),
Gambut dalam (200 – 300 cm), dan
Gambut sangat dalam (> 300 cm)

Berdasarkan proses dan lokasi pembentukannya, gambut dibagi menjadi:

 Gambut pantai adalah gambut yang terbentuk dekat pantai laut dan mendapat pengayaan mineral dari air laut
Gambut pedalaman adalah gambut yang terbentuk di daerah yang tidak dipengaruhi oleh pasang surut air laut tetapi hanya oleh air hujan
Gambut transisi adalah gambut yang terbentuk di antara kedua wilayah tersebut, yang secara tidak langsung dipengaruhi oleh air pasang laut.

Gambut merupakan salah satu jenis tanah dengan luas lahan yang cukup besar dan sangat potensial dikembangkan dalam kegiatan pertanian hortikultura. Gambut memiliki potensi kandungan bahan organik tinggi dan kemampuan menyerap air tinggi yaitu 13 kali dari beratnya. Namun, permasalahan pengembangan pertanian di tanah gambut menjadi kendala utama dalam pengembangan pertanian hortikultura. Kendala pertanian pada tanah gambut sesungguhnya disebabkan oleh drainaise jelek, kemasaman tinggi, tingkat kesuburan dan kerapatan lindak rendah. Kemasaman gambut yang tinggi dan ketersediaan hara serta Kejenuhan Basah (KB) rendah menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman sangat rendah. untuk itu perlu dilakukan upaya yang dapat meningkatkan kesuburan tanah pada tanah gambut. cara yang dapat dilakukan yaitu :

Pengelolaan air
Budidaya tanaman pangan di lahan gambut harus menerapkan teknologi pengelolaan air, yang disesuaikan dengan karakteristik gambut dan jenis tanaman. Pembuatan saluran drainase mikro sedalam 10 – 50 cm diperlukan untuk pertumbuhan berbagai jenis tanaman pangan pada lahan gambut. Tanaman padi sawah pada lahan gambut hanya memerlukan parit sedalam 10-30 cm. Fungsi drainase adalah untuk membuang kelebihan air, menciptakan keadaan tidak jenuh untuk pernapasan akar tanaman, dan mencuci sebagian asam-asam organik. Semakin pendek interval/jarak antar parit drainase maka hasil tanaman semakin tinggi. Walaupun drainase penting untuk pertumbuhan tanaman, namun semakin dalam saluran drainase akan semakin cepat laju subsiden dan dekomposisi gambut
Pengelolaan kesuburan tanah
Tanah gambut bereaksi masam. Dengan demikian diperlukan upaya ameliorasi untuk meningkatkan pH sehingga memperbaiki media perakaran tanaman. Kapur, tanah mineral, pupuk kandang dan abu sisa pembakaran dapat diberikan sebagai bahan amelioran untuk meningkatkan pH dan basa-basa tanah. Tidak seperti tanah mineral, pH tanah gambut cukup ditingkatkan sampai pH 5 saja karena gambut tidak memiliki potensi Al yang beracun. Peningkatan pH sampai tidak lebih dari 5 dapat memperlambat laju dekomposisi gambut. Pengaruh buruk asam-asam organik beracun juga dapat dikurangi dengan menambahkan bahan-bahan amelioran yang banyak mengandung kation polivalen seperti terak baja, tanah mineral laterit atau lumpur sungai.

 

Jenis Amelioran

Dosis

(ton Ha-1 tahun 1)

Manfaat

Kapur Pertanian

1-2

Meningkatkan basa-basa dan pH tanah

Pupuk Kandang

5-10

Memperkaya unsur hara makro dan mikro

Abu

10-20

Meningkatka basa-basa dan pH tanah

Pupuk Kompos

10-15

Memperkaya unsur hara makro dan mikro

Limbah Biogas

10-20

Mengurangi fitotoksik asam organik

Meningkatkan basa-basa dan

Memperkaya hara

Tanah Mineral

10-20

Mengurangi fitotoksik asam organik

Meningkatkan basa-basa

Meningkatkan kadar hara makro dan mikro

Keterangan: Bebarapa amelioran dapat menggantikan fungsi amelioran lainnya. Misalnya, dengan pemberian kapur, pemberian abu dapat dikurangi dan sebaliknya.

Pemupukan sangat dibutuhkan karena kandungan hara gambut sangat rendah. Jenis pupuk yang diperlukan adalah yang mengandung N, P, K, Ca dan Mg. Walaupun KTK gambut tinggi, namun daya pegangnya rendah terhadap kation yang dapat dipertukarkan sehingga pemupukan harus dilakukan beberapa kali (split application) dengan dosis rendah agar hara tidak banyak tercuci. Penggunaan pupuk yang tersedianya lambat seperti fosfat alam akan lebih baik dibandingkan dengan SP36, karena akan lebih efisien, harganya murah dan dapat meningkatkan pH tanah.

Penambahan kation polivalen seperti Fe dan Al akan menciptakan tapak jerapan bagi ion fosfat sehingga bisa mengurangi kehilangan hara P melalui pencucian. Tanah gambut juga kahat unsur mikro karena dikhelat (diikat) oleh bahan organik. Oleh karenanya diperlukan pemupukan unsur mikro seperti terusi, magnesium sulfat dan seng sulfat masing-masing 15 kg ha-1 tahun-1, mangan sulfat 7 kg ha-1 tahun-1, sodium molibdat dan borax masing-masing 0,5 kg ha-1 tahun-1. Kekurangan unsur mikro dapat menyebabkan kehampaan pada tanaman padi, tongkol kosong pada jagung atau polong hampa pada kacang tanah.

Sumber : http://wahanapertanian.blogspot.com/2012/10/tanah-gambut-dan-permasalahanya.html

Berita ttg Sawit Bisa Dilihat di Bawah ini :

Advertisements