Advertisements

Berita cuplikan ini merupakan sebuah gambaran pengalaman masa lalu agar bisa diambil hikmahnya sehingga bisa mendapatkan gambaran antisipasi untuk masa datang.

Dahulu, bagi banyak orang di Riau, menjadi petani sawit merupakan pekerjaan yang sangat menggiurkan. Sebab, hanya dengan bermodalkan dua hektare kebun sawit saja, mereka sudah bisa menerima penghasilan bersih Rp 5 juta sampai Rp 6 juta sebulan, tanpa harus banyak bekerja. Apalagi, jika memiliki sampai 10 hektare atau bahkan 100 hektare, berapa banyak penghasilan mereka.

Advertisements

Karena sangat menggiurkannya usaha sawit, maka banyak warga yang mengubah lahan pertaniannya menjadi kebun kelapa sawit. Jika sebelumnya lahan mereka ditanami sawah, jagung, atau komoditas pertanian lainnya, kini lahan mereka telah diubah menjadi kebun sawit, dengan harapan lahan itu menjadi “mesin pencetak uang” bagi mereka.

Harapan itu memang bukan isapan jempol saja. Buktinya, banyak petani sawit berubah menjadi orang kaya baru (OKB) di Riau. Mereka bisa membangun rumah gedung, membeli mobil mewah, bahkan menunaikan ibadah haji berkali-kali ke Tanah Suci. Bahkan, kalau lagi panen, mereka bisa mengajak keluarganya melancong ke Jakarta atau malah ke Singapura.

Itu dulu ketika harga buah sawit masih di atas Rp 1.500 per kilogram. Tapi, sekarang suasananya sudah berubah drastis. Saat ini para petani sawit yang ada di Riau umumnya sudah jatuh telentang akibat makin anjloknya harga sawit. Harga sawit sejak beberapa bulan terakhir ini jatuh di bawah Rp 250 per kilogram. Era OKB pun kini mungkin berubah menjadi orang miskin baru (OMB).

Dengan harga sawit yang sangat rendah itu, para petani di Riau tidak lagi bisa mengandalkan usaha ini untuk memenuhi kebutuhannya. Jangankan mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan buah sawitnya, untuk membiayai upah mendodos sawit dan membersihkan kebun saja sudah tidak mencukupi. Belum lagi untuk membeli pupuk yang akhir-akhir ini harganya naik.

Meski panen sawit tahun ini meningkat, itu sama sekali tidak ada artinya. Hasil penjualan sawit itu tetap tidak bisa memberikan keuntungan bagi mereka. Uang yang diperoleh dari menjual buah sawit hanya bisa untuk membayar upah mendodos buah sawit dan membersihkan kebun. Makin banyak buah yang dipanen akan makin banyak pula biaya yang dikeluarkan.

Kondisi itu bertambah buruk lagi karena akhir-akhir ini banyak pabrik kelapa sawit (PKS) tidak menerima buah sawit mereka. Alasannya, produksi CPO sudah sangat besar, sedangkan permintaan dari luar negeri makin menurun. Sejumlah PKS di Riau saat ini telah menghentikan kegiatannya.

Mendadak Gila
Sejak harga sawit anjlok, kehidupan para petani di Riau mendadak berubah drastis. Harga buah sawit yang anjlok tajam itu membuat sebagian besar mereka jatuh miskin. Ironisnya, kondisi itu sempat membuat beberapa petani mendadak gila bahkan ada yang berusaha bunuh diri.

Marwanto, salah seorang petani sawit dari Desa Sungai Pagar, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, belum lama ini mengungkapkan, anjloknya harga sawit yang terus berlangsung hingga saat ini membuat petani sawit di desanya menjadi stres. “Ada di antara kami yang mendadak gila dan ada pula yang berusaha bunuh diri,” ujarnya.

Menurut dia, kondisi harga sawit sekarang ini benar-benar menimbulkan penderitaan bagi para petani yang menggantungkan hidupnya hanya semata-mata pada hasil sawitnya. Jadi, begitu harga sawit anjlok tajam, mereka langsung kehilangan pendapatan sehingga kontan jatuh miskin.

“Makanya, kini banyak petani sawit terkena stres berat. Bahkan, yang lebih parah lagi, ada yang sampai berusaha bunuh diri. Mereka merasa tidak sanggup lagi memikul beban hidup yang makin berat,” katanya. Untung saja warga lain dapat menggagalkan upaya bunuh diri itu.

Dia menyebutkan, warga yang mencoba bunuh diri itu karena dililit banyak utang yang tidak sanggup dibayarnya. Biasanya, cicilan utang itu bisa dibayarnya dari hasil panen sawit. Namun, karena harga sawit anjlok, dia tidak sanggup lagi membayar cicilan.

Hal itu diakui Setiyono, pengurus Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perkebunan Inti Rakyat (Aspekpir) Riau, di Pekanbaru. Dia mengatakan, sejak harga sawit anjlok, pendapatan para petani sawit di Riau turun secara drastis. Mereka jadi tidak sanggup lagi membayar utang-utangnya, termasuk cicilan rumah dan kendaraannya.

Disebutkannya, ketika harga buah sawit melambung, para petani sawit di Riau memang merasa mendapatkan durian runtuh dengan pendapatan yang cukup besar. Karena itu, di kalangan petani sawit itu muncul sifat konsumtif yang sangat tinggi.

Sifat konsumtif yang tinggi itu dibuktikan dengan banyaknya petani sawit membeli barang-barang mewah seperti sepeda motor, mobil, dan rumah. Sebagian barang-barang itu mereka dapatkan dengan cara kredit karena mereka merasa yakin akan mampu membayar cicilannya.

“Karena itu, begitu harga buah sawit anjlok, pendapatan mereka menurun drastis. Kini mereka tidak sanggup lagi membayar cicilan. Bahkan, jangankan membayar cicilan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah tidak sanggup lagi,” kata Setiyono.

Karena itu, saat ini banyak di antara petani sawit itu mengembalikan lagi rumah atau kendaraan yang telah mereka beli secara cicilan itu. Sebagian lagi ada yang menjual murah rumah dan kendaraan yang mereka kredit itu dengan sistem pengalihan kredit.

Setiyono mengatakan, saat ini petani sawit yang tergabung dalam Aspekpir Riau mencapai 64 ribu kepala keluarga dengan luas lahan masing-masing dua hektare. Para anggota Aspekpir ini tersebar di hampir seluruh kabupaten/kota di Provinsi Riau.

Kondisi buruk itu tidak dibantah Kepala Dinas Perkebunan Riau, Soesilo. Kepada wartawan di Pekanbaru dia menyebutkan, anjloknya harga sawit akhir-akhir ini tidak pelak lagi membuat banyak petani sawit di Riau jatuh miskin. Hal ini berdampak pada naiknya angka kemiskinan di Riau. Kalau sebelumnya hanya tercatat 11 persen, kini menjadi 32 persen.

Dia menyebutkan, untuk saat ini saja jumlah petani sawit di Riau sudah mencapai 941 ribu kepala keluarga (KK). Jumlah ini belum termasuk yang bekerja sebagai pendodos buah sawit dan pembersih pohon sawit.

“Jadi, kalau anjloknya harga sawit ini berlangsung berbulan-bulan, dapat dipastikan orang-orang yang berkecimpung di usaha sawit akan jatuh miskin,” ujarnya. Kendati selama ini mereka memiliki simpanan uang, tapi kalau anjloknya harga sawit berlangsung dalam waktu lama, uang tersebut pasti akan terpakai juga. (Adrizas)

Sumber : http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=213155

Advertisements