ilustrasi(Press Rilis Gapki) Pada April 2015, harga rata-rata CPO global kembali melemah satu persen dibandingkan bulan sebelumnya atau dari US$ 662 per metrik ton pada bulan Maret turun menjadi US$ 654,6 per metrik ton di April. Mandatori Bahan Bakar Nabati 15 persen berbasis CPO (B15) yang efektif diberlakukan sejak 1 April 2015 yang diharapkan mampu mendongkrak kelesuan harga CPO global belum dilaksanakan. Pertamina belum melakukan pembelian biodiesel karena skema subsidi yang direncanakan melalui CPO Supporting Fund (CSF) belum berjalan sehingga mandatori B15 belum memberikan dampak yang berarti. Sangat penting Pemerintah menjalankan program B15 dan CSF untuk mendongkrak harga CPO.

Kelesuan harga tidak hanya dialami oleh minyak sawit, hal yang sama juga dialami oleh minyak nabati lainnya seperti kedelai dan rapeseed.

Kinerja ekspor minyak sawit Indonesia mencatat rekor tertinggi pada bulan April ini sejak tahun 2015 yaitu lebih dari 2,25 juta ton, atau naik 11 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya dan 63% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Di tengah lesunya harga semua minyak nabati di pasar global, ekspor minyak sawit Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang positif. Sejak Januari – April 2015, ekspor minyak sawit Indonesia telah mencapai 7,88 juta ton atau naik 25 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu yaitu sebesar 6,3 juta ton. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan minyak sawit di pasar global terus meningkat, padahal minyak sawit hanya sebagai minyak substitusi terutama di China, Amerika dan Eropa yang lebih suka menggunakan minyak kedelai, canola dan minyak bunga matahari.

Advertisements

Meningkatnya kinerja ekspor minyak sawit Indonesia pada bulan April ini tidak terlepas dari permintaan dari India, Uni Eropa dan China yang merupakan pasar utama ekspor minyak sawit Indonesia. Pasar baru negara-negara Afrika juga kian bergairah dan terus menunjukkan kenaikan selama dua bulan berturut-turut.

Volume ekspor minyak sawit Indonesia ke India di April ini tercatat naik 45,5 persen dibandingkan bulan lalu atau dari 434 ribu ton di bulan Maret menjadi 631 ribu ton pada April 2015. Kenaikan volume ekspor ini diikuti oleh negara China 15 persen dan negara Uni Eropa sebesar 8,5 persen. Kenaikan permintaan yang jumlahnya tidak banyak akan tetapi sangat signifikan secara persentase datang dari Pakistan dan Amerika Serikat (AS). Pakistan membukukan kenaikan permintaan sebesar 101 persen dari 75,75 ribu ton menjadi 152 ribu ton. Sementara itu AS mencatatkan kenaikan permintaan sebesar 91 persen atau dari 28,8 ribu ton menjadi 55 ribu ton.

Meningkatnya volume permintaan dari beberapa negara diatas karena negera-negara tersebut mengambil kesempatan membeli minyak sawit dari Indonesia dimana pajak ekspornya nol pada bulan April lalu, sedangkan Malaysia yang merupakan negara kedua terbesar penghasil minyak sawit mematok pajak ekspor pada April lalu sebesar 4,5 persen setelah selama enam bulan terakhir mematok nol persen untuk pajak ekspornya. Ekspor seluruh produk minyak sawit (termasuk biodiesel dan finished product) Malaysia turun 2 persen pada April 2015 atau dari 1,77 juta ton di bulan Maret turun menjadi 1,74 juta ton pada April ini.

Selain dipengaruhi pajak ekspor, meningkatnya volume ekspor juga disebab adanya wabah penyakit yang menyerang tanaman Olive di Italia, dimana sekitar 11 juta pohon Olive direkomendasikan European Commission untuk dimusnahkan karena terinfeksi bakteri Xylella Fastidiosa. Pada pertengahan April sekitar 1 juta pohon telah dimusnahkan. Penebangan/pemusnahan harus dilakukan karena hanya itu satu-satunya cara untuk memberantas bakteri  Xylella Fastidiosa. Dengan pemusnahan masal pohon Olive yang terserang penyakit secara otomatis akan mengurangi pasokan minyak nabati di Uni Eropa sehingga minyak substitusi akan menjadi pilihan.

Sementara penguatan dollar AS terhadap mata uang rupiah juga mendongkrak kinerja ekspor minyak sawit Indonesia ke negeri Paman Sam.

Dari sisi harga, harga rata-rata CPO global pada April 2015 kembali melorot satu persen dibandingkan bulan lalu. Harga rata-rata April hanya mampu bertahan di US$ 654,6 per metrik ton dengan pergerakan harga harian di kisaran US$ 637,50 – US$ 670 per metrik ton.

Sementara itu, harga harian CPO global selama tiga pekan pertama Mei masih stagnan dan cenderung menurun, harga hanya bergerak di kisaran US$ 642,5 – US$ 665 per metrik ton. GAPKI memperkirakan harga CPO hingga akhir Mei akan bergerak di kisaran harga US$ 645 -US$ 665 per metrik ton.

Sementara itu Harga Patokan Ekspor Mei 2015 ditentukan oleh Kementerian Perdagangan sebesar US$ 660 dan Bea Keluar 0% dengan referensi harga rata-rata tertimbang (CPO Rotterdam, Kuala Lumpur dan Jakarta) sebesar US$ 671,5 per metrik ton. Dengan melihat trenharga CPO global yang bergerak di bawah US$ 750 per metrik ton, GAPKI memperkirakan harga Bea Keluar untuk Juni akan tetap 0%.

Advertisements