MedanBisnis – Medan. Guna melepas ketergantungan kepada pasar global, Indonesia berencana akan membangun bursa fisik karet di Belawan, Sumatera Utara (Sumut) sehingga produsen bisa ikut menentukan harga.

Advertisements

Sekretaris Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy Irwansyah mengungkapkan, akibat ketergantungan pada pasar global tersebut, harga karet di Indonesia terus dalam tekanan. Padahal, sebagai produsen karet terbesar dunia, Indonesia seharusnya bisa mengendalikan harga karet. “Namun, yang terjadi selama ini harga karet justru dikontrol oleh pelaku pasar,” ungkapnya kepada MedanBisnis, Minggu (14/6).

Keadaan tersebut sangat ironis. Harga jual karet Indonesia, Malaysia dan Thailand serta produsen karet lainnya ditentukan melalui bursa berjangka karet dari negara yang bukan produsen karet alam terutama Singapura melalui Singapore Commodity Exchange (Sicom) dan Tokyo melalui Tokyo Commodity Exchange (Tocom). Keadaan ini sudah berlangsung lama dan sangat merugikan petani karena produksi karet dari produsen utama mayoritas berasal dari kebun rakyat.

Perlu diketahui harga karet di pasar global adalah harga FOB atau harga karet siap diekspor. Sedangkan harga di tingkat petani adalah harga bahan baku dari petani dengan kondisi belum diolah dan kadar airnya mencapai lebih dari 50%, dimana saat ini sekira Rp7.500 per kilogram. Sedangkan harga di tingkat pabrik biasanya harga FOB setelah dipotong ongkos olah, termasuk biaya bunga bank.

Saat ini, harga karet di pasar internasional masih bertahan pada level rendah US$1,5 hingga US$1,6 per kg. “Harga di tingkat petani lebih rendah lagi. Jika dulu harga 1 kg karet bisa membeli 2 kg beras, sekarang hanya bisa membeli setengah kg beras,” jelasnya.

Kini Sicom sulit menjadi acuan karena harga karet di bursa itu sudah di bawah harga dasar. Padahal Indonesia sudah 10 tahun mengacu pada harga di bursa itu.

Dia menilai rendahnya harga karet di Sicom membuat banyak pihak curiga telah terjadi permainan di Bursa Komoditi Singapura itu, yang dilakukan oleh para spekulan, sehingga harga karet tak kunjung membaik. Pasalnya, karena kelebihan pasokan karet di pasaran, sejumlah negara produsen sudah memangkas produksi mereka, namun harga karet tetap berkutat pada level terendah.

Selama ini, produsen selaku penghasil karet tidak bisa terlibat langsung menentukan harga jualnya di pasar global. Karena, oleh pihak pembeli (trader) harga diarahkan untuk mengacu pada suatu bursa berjangka karet di Singapura atau Tokyo. “Kita tidak berdaya dengan keadaan tersebut, karena terciptanya harga ditentukan oleh pelaku pasar (pembeli dan penjual) yang bertransaksi di bursa tersebut. Dengan perkataan lain, kita tidak terlibat dalam pembentukan harga atas barang kita sendiri,” ungkapnya.

Untuk itu, langkah pemerintah melalui Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) yang akan membangun bursa fisik karet di Belawan disambut baik oleh produsen karet di Sumut. Bappebti telah bertemu denga produsen karet Sumut pada akhir Mei lalu. Persiapan untuk pendirian bursa fisik karet akan dilanjutkan dalam waktu dekat.

Produsen karet di Sumut berharap bursa ini segera dapat berjalan, sehingga bisa terlibat langsung dalam penetapan harga. Bila bursa ini berjalan lancar, maka bursa berjangka karet di luar negeri akan berkurang pengaruhnya. Kehadiran bursa fisik ini juga menjadi harapan bagi petani dan perkebunan agar harga yang tercipta di tingkat petani tidak lagi di bawah ongkos produksi. “Cara kerja bursa ini cukup sederhana. Transaksi akan dilakukan jika stok karet telah ada di gudang. Nantinya, gudang akan dibangun untuk menampung karet dari produsen. Ini memungkinkan produsen berhubungan langsung dengan konsumen atau end user. Yang terjadi selama ini adalah produsen dan end user dihubungkan oleh trader,” jelasnya.

Selain itu upaya pemerintah meningkatkan konsumsi domestik juga akan mengancam kelancaran transaksi bursa berjangka karet di luar negeri, karena jaminan ketersediaan produk semakin berkurang. Berkurangnya jaminan pasokan karet untuk bursa berjangka di luar negeri tidak hanya karena meningkatnya konsumsi domestik, tetapi juga karena meningkatkan volume perdagangan bursa fisik dalam negeri. “Pendirian bursa fisik karet di Indonesia, setelah Belawan akan dilanjutkan di sentra utama lainnya, di antaranya Palembang,” tandasnya.

Pengamat ekonomi Sumut, M Ishak mengungkapkan, selama ini acuan harga yang digunakan oleh pengusaha Indonesia memang sedikit merugikan. Selain sentimen-sentimen negatif yang sering terjadi pada bursa berjangka, rendahnya harga karet itu juga bisa jadi karena ada permainan dari pelaku pasar, seperti yang diduga sebagian besar produsen karet.”Selain menjual dengan harga rendah di pasar ekspor, karet-karet dari produsen jika dilempar langsung ke pabrik ban atau pengguna bahan baku karet lainnya di dalam negeri, acuan harga karet internasional itu yang digunakan sehingga harga dalam negeri tak bisa naik,” jelasnya.

 

Sumber berita: medanbisnisdaily.com

Advertisements