SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Kelapa sawit merupakan hasil perkebunan yang menjanjikan. Buah kelapa sawit pada umumnya digunakan sebagai bahan dasar minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel).

Bayangkan saja, produk minyak sawit mentah alias Crude Palm Oil (CPO) Indonesia pada tahun 2012 mencapai sebesar 25 juta ton dan menjadikan Indonesia sebagai produsen terbesar CPO di dunia mengalahkan Malaysia.

Advertisements

Dari segi pendapatan negara, devisi ekspor yang dihasilkan produk kelapa sawit pada tahun 2012 tercatat sebesar US$ 19,65 miliar atau sekitar Rp 200 triliun. Namun sayang, pendapatan yang diterima petani sawit Aceh tak sebanding dengan pendapatan negara itu.

Sekedar diketahui, harga sawit tepatnya harga jual Tandan Buah Segar (TBS) di level petani cuma Rp 500-650 per kilogram, dari sebelumnya di atas Rp 1.000/Kg.

Hal demikian jelas tak menguntungkan pihak petani. Sekretaris Asosiasi petani Kepala Sawit Indonesia wilayah Abdya, Khairan Husaini mengatakan, fenomena rendahnya harga jual TBS itu membuat petani ‘terpukul’. “Di Abdya contohnya, 80 persen lahan sawit milik petani. Jadi bisa dibayangkan bagaimana posisi petani sawit di sana,” ujarnya, Jumat (14/8/2015) via telepon.

Kenyataan tersebut menurutnya, harus segera diselesaikan oleh Pemerintah Daerah, sebab komoditas sawit sudah menjadi ekspor andalan dan banyak masyarakat menggantungkan nasibnya lewat profesi bertani sawit.

“Pemerintah secepatnya membangun Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di setiap daerah penghasil sawit, serta mengatur harga eceran sawit agar tidak dipermainkan,” jelas Khairan.

Hal serupa juga diutarakan Anggota DPRA Komisi 1, Bardan Sahidi. “Regulasi itu mutlak dilakukan dan dapat berupa Pergub atau Qanun, yang jelas hingga saat ini kita belum punya harga eceran tertinggi sawit,” ujar dia.

Dalam program Cakrawala SerambiFM 90,2 Mhz, tim mengangkan topik Salam Serambi yang berjudul “Petani Sawit Berharap Empati Pemerintah Aceh.” Hadir di studio Redaktur Pelaksana ProHaba, Nurdinsyam dipandu host Nico Firza.

Nurdinsyam mengatakan, Pemerintah Daerah sepatutnya turun tangan menyelesaikan permasalahan petani sawit. “Sawit pernah menjadi mimpi indah, namun sirna seiring turunnya harga minyak dunia. Bila direncanakan dengan benar, bukan tak mungkin dana otsus itu menjawab persoalan petani sawit di daerah,” ujarnya.

Dia menjelaskan, sawit telah menyumbangkan triliunan Rupiah bagi negara, maka seharusnya permasalahan sawit tidak boleh disepelekan.(*)

 

Sumber berita: Tribunnews.com

Advertisements