BABAK baru dilakukan Pemerintah Provinsi ( Pemprov ) DKI Jakarta guna mengendalikan harga pangan. Ini ditandai dengan diresmikannya mesin CAS (Controlled Atmosphere Storage), mesin yang dapat menyimpan bahan pangan seperti bawang dan cabai hingga 6 bulan dengan kapasitas 16 ton.

Seperti dikatakan Plt Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat ketika meresmikan mesin CAS, Selasa ( 6/6/17) kemarin, penyimpanan bahan pangan ini sebagai upaya mengendalikan harga dan menjaga ketahanan pangan, khususnya di Jakarta.

Ini dimaksudkan agar kita bisa mencapai kedaulatan pangan sehingga tidak lagi didikte oleh pangan impor, termasuk adanya permainan harga.

Advertisements

Kami sependapat dengan apa yang dikatakan Plt Gubernur DKI agar kita berdaulat di bidang pangan sebagaimana cita – cita Bung Karno tentang Trisakti, yaitu berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian secara sosial budaya. Berdikari secara ekonomi dengan cara menjaga ketahanan pangan dan terciptanya kedaulatan pangan.

Kedaulatan pangan menjadi penting mengingat dalam hal bawang putih saja negeri kita rutin melakukan impor dari negara lain.

Bahkan, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) tengah menyelidiki dugaan kartel yang dilakukan importir bawang putih. Sebab, harga bawang yang melambung hingga Rp 60.000/kg sejak sebelum puasa tidaklah wajar.

Di Malaysia harga bawang putih yang sama – sama diimpor dari China dijual paling tinggi Rp24.000 /kg, sementara di negeri kita dijual di atas Rp40.000/kg. Barangnya sama, impor dari negara yang sama juga, tetapi harga berbeda. Mengapa? Jawabnya, menjadi tugas kementerian terkait untuk menelusuri dan mengambil tindakan jika terdapat permainan.

Ini menjadi penting karena tingginya inflasi di bulan Mei 2017 sebesar 0,39 % , menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), salah satu faktor pendorong adalah naiknya harga pangan menjelang dan memasuki bulan puasa. Bawang putih salah satu pangan yang harganya naik tinggi hingga menembus Rp60.000/kg. Ada anomali harga bawang putih sehingga bergerak di atas harga normal.

Solusi dilakukan melalui operasi pasar di sejumlah daerah, tetapi ini tidak menyelesaikan masalah karena sifatnya hanya meredam sementara. Solusi jangan panjang dengan mewujudkan kedaulatan pangan melalui pembukaan lahan baru pertanian tidak saja bawang putih, juga komoditas lain yang selama ini masih tergantung impor.

Langkah nyata dan cepat perlu dilakukan untuk mencapai kedaulatan pangan, jika tidak ,bawang putih misalnya yang 90 % nya impor, sekitar 500 ribu ton dengan nilai Rp20 triliun akan terus menjadi incaran lahan bisnis segelintir orang.( *)

Advertisements